MALANG
Hampir 24 jam dari kejadian, masih juga belum percaya.
Begitu juga ayahku yg bertanya dipagi harinya, atas kejadian yg sampai di handphone kecilnya itu. Ikatan kuat kedaerahan, memang jadi alasan atas rasa sakit dan ketidak percayaan ini.
1 oktober dimana katanya hari saktinya pancasila, malah jadi kelabu untuk satu daerah. Kebobrokan kebobrokan di semua lini, yg biasanya tertutupi, kini terkuak jadi bom busuk memakan korban.
Atas nama rivalitas konyol, Rating yang dikejar, segala macam bentuk ketamakan, dan sistem keamaan yang kacau. 175 nyawa hilang sia sia ditelan asap pedas.
Atas kejadian ini kita jadi makin tau, bahwa selama ini rivalitas semu yg memakan korban, tanpa disadari terus didorong oleh federasi yg kacau ini, bahkan apinya terus di kobarkan biar makin banyak korbanya dan mereka makin tebal cuanya.
Atas kejadian ini pula kita tahu, kita suporter atau bahkan pemain pun, hanya pion-pion pengisi kocek mereka, pion-pion demi melenggangkan mereka ke jabatan baru. pion-pion yang akhirnya disalahkan bila kejadian ini terjadi.
Dan sedangkan mereka cuma grombolan pengecut, tidak punya otak, yang rajin cuci tangan tapi buruk dalam komunikasi, hanya berpura pura sibuk lalu kembali ke ranjang hangat milik mereka masing masing. Tanpa ada satu pun yang mau bertanggung jawab.
Lalu apa yg bisa kita harapkan pada negara yg hanya doyan lembaran kertas bernominal, tanpa tau arti pentingnya jiwa yg beterbangan...tanggung jawab?.
Lalu bicaralah pada tiap ibu yang kehilangan anaknya. Bicaralah pada anak yang kehilangan kedua orang tuanya. Bicaralah pada guru guru yg harus melihat muridnya terbujur kaku. bicaralah, mana kepalamu?
Komentar
Posting Komentar