Terlalu murah perihal rasa
Tepukan perayaan atas nama penuturan perasaan sudah terlalu murah dipertontonkan. Padahal bertutur perihal rasa, dirasa-rasa tidak boleh main sembarang.
Pembahasan tentang perasaan kaum Adam Hawa memang paling menarik, dibahas terus seperti pom bensin yang ada dimana mana.
Padahal perasaan adalah alasan peradaban manusia dimulai didunia, begitu juga dengan dosa pertama didunia. Sementara kita berjalan diatasnya menapaki dengan menari-nari.
Sesungguhnya menganugerahkan perasaan adalah hak prerogratif Tuhan selaku sang pencipta, dan memohon perasaan adalah alamiah manusia sebagai umat yg posisinya dibawah sang pencipta. Dan kita Masih terlalu murah utuk merayakanya?.
Perasaan sendiri memang sudah menjadi ode bagi manusia, hanya berdasarkan rasa yang datang entah dari mana asalnya, lalu sistem saraf meresap rasa yang dikirim Tuhan tanpa alasan. Lalu direfleksikan dari sebuah tindakan. Apakah kita terlalu murah soal rasa, atau memang rasa adalah dialektika alamiah manusia?
Komentar
Posting Komentar